:::: welcome to Bali WapBlog :::: ##"Mai Ng'Blog Pang Seng Belog"##

Membaca, Maka Kamu Pandai Menulis

Posted by Unknown Tuesday, 5 April 2016 0 comments


Dikutip dari Kompas.com
Salim adalah prototip pejuang Indonesia yang mengenyam pendidikan Belanda dan juga seorang otodidak. Ia adalah diplomat yang memiliki kemampuan berdebat cerdas, menguasai bahasa asing dengan baik, -- 7 bahasa asing dikuasainya antara lain Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang, -- dan menulis dengan militan.

Laki-laki kurus kecil asal Batusangkar, Sumatera Barat, yang selalu menghisap rokok kretek itu tidak perlu mengemis untuk sebuah paspor hitam untuk "mengaum" di meja-meja diplomasi dunia. Salim diakui kepiawaian dalam berdiplomasi. Ia punya skil komunikasi tutur dan tulis sangat mumpuni yang menjadi modal utamanya sebagai diplomat.
Sosok Salim kelak akan menjadi pemantik "spesies" yang lebih hebat seperti Soekarno, Tan Malaka, Muhammad Hatta, M Natsir, Hamka dan lainnya. Kesemuanya bisa dialektika, membaca, dan menulis dengan sempurna.
Budaya membaca dan menulis seyogianya harus ditularkan dan diinspirasi dari seorang pemimpin. Bung Karno, yang sangat "gila" membaca, mewariskan buku sekaliber Di Bawah Bendera Revolusi kepada bangsa ini.

Hatta dan 11 peti berisi buku yang dibawanya pulang ke tanah air setelah tafakur intelektualnya selama kurang lebih 11 tahun di Negeri Kincir Angin pun begitu dan membuktikan bahwa buku adalah amunisi bagi perjuangan, sementara pena adalah meriamnya untuk memenangkan perjuangan itu.

Tentu, di era sekarang, kita pun masih membutuhkan buku dan pena sebagai amunisi dan meriam dalam era regionalisasi dan globalisasi ini. Bahkan lebih!

Faktanya, dan ini mengkhawatirkan, bahwa budaya membaca di Indonesia masih kurang. Itu kalau tak mau dikatakan memprihatinkan.
Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO 2012) mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Itu artinya, pada setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang punya minat membaca.

Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Tidak usah dibandingkan dengan Jepang dan Amerika yang rata-rata membaca 10-20 buku pertahun. Jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN, yang membaca 2-3 buku per tahun, kita pun masih sangat ketinggalan.

Melihat itu, kita tentu membutuhkan generasi muda yang ada "garam" dalam setiap ucapannya, dan militan dalam tulisannya. Seperti tulisan-tulisan Agus Salim, Soekarno atau Hatta.

Sejatinya, Indonesia membutuhkan generasi muda yang menjadikan buku sebagai jendela pengetahuan untuk mendapatkan cakrawala ilmu dan kearifan. Generasi yang memiliki karakter ulama (agamis), intelektual, diplomat, satrawan, ahli debat ulung, dan guru yang  jenius. Juga, seperti Agus Salim atau Hamka.

Mari kita bangun kembali budaya baca dan tulis yang sebenarnya sudah kita warisi. Kita bisa memulainya dari lingkungan terkecil dan terdekat. Semua itu tentu untuk membangun (kembali) peradaban kita!

Objek Wisata Unik Hidden Canyon Beji Guwang Gianyar Bali

Posted by Unknown Monday, 4 April 2016 0 comments






Objek wisata Hidden Canyon Beji Guwang tergolong unik dan sangat diminati oleh anak-anak muda karena memiliki rahasia yang hanya bisa dibaca oleh imajinasi. Hidden Canyon Beji Guwang berada di area Sungai Beji yang lokasinya dekat dengan Pura Dalem Desa Guwang, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Keberadaan Hidden Canyon tersembunyi yang jarang dikunjungi wisatawan tapi dengan keberadaan media sosial, objek wisata Hidden Canyon Beji Guwang sangat ramai dikunjungi wisatawan seperti foto-foto yang dikutip dari instagram “Hidden Canyon Beji Guwang”
 

Hidden Canyon Beji Guwang menjadi tempat wisata baru sebagai objek wisata alternatif berwisata di Pulau Dewata. Tak hanya masyarakat lokal, tetapi juga masyarakat luar daerah dan luar negeri. Lokasi Hidden Canyon Beji Guwang berawal dari sebelah pura, kemudian menuruni tangga yang berjumlah lumayan banyak sehingga diperlukan stamina yang kuat untuk menuruni tangga tersebut.


Setelah menuruni beberapa anak tangga, akan terlihat area pancoran air yang biasa digunakan untuk warga lokal sebagai tempat upacara melasti. Selanjutnya menuruni sungai dan berjalan  daerah bebatuan yang berjarak sekitar 700 meter untuk sampai di lokasi lembah tersembunyi itu. Terkadang memanjat beberapa tebing kecil, kemudian melewati medan bebatuan kembali.


Lokasi Hidden Canyon Beji Guwang termasuk kategori tempat suci umat Hindu sehingga kesopanan dalam bertingkah ataupun berkata sangat diperhatikan. Pemandangan tebing batu di Hidden Canyon Beji Guwang memiliki tinggi sekitar 20-30 meter dengan aliran sungai yang berwarna biru langit. Pengunjung memanfaatkan keindahan pemandangan tebing tersebut sebagai latar belakang foto. Hidden Canyon Beji Guwang memiliki 3 lembah rahasia yang bisa dilihat dengan waktu tempuh 1,5 jam hingga 2 jam. Tebing-tebing batu di Hidden Canyon Beji Guwang memiliki bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan imajinasi pengunjung. Ada yang berbentuk tengkorak, macan, kepala kera, orang bermuka sedih atau tersenyum.
 
Bentuk-bentuk wajah itu terkadang terlihat jelas setelah melihat hasil foto. Warna tebing terlihat berubah-rubah karena efek cahaya matahari dan tingkat kelembaban yang dapat mempengaruhi warna. Hidden Canyon Beji Guwang selalu ramai dikunjungi wisatawan baik masyarakat lokal, wisatawan domestik serta wisatawan asing. Karena kawasan Hidden Canyon Beji Guwang merupakan kawasan suci yang menurut warga disana percaya penghuninya adalah macan kuning atau naga putih sehingga sering dimanfaatkan sebagai tempat meditasi.

Pesona Eksotik Kebun Raya Eka Karya Bedugul Bali

Posted by Unknown 0 comments


Bedugul merupakan salah satu kawasan objek wisata di Bali yang terletak di desa Candikuning, Kabupaten Tabanan. Bedugul memiliki pemandangan yang indah dengan udaranya yang sejuk seperti halnya wisata Puncak di Bogor. Perjalanan menuju ke objek wisata Bedugul memakan waktu 1,5 jam perjalanan dari Kota Denpasar.

Kebun Raya Eka Karya Bedugul merupakan salah satu objek wisata yang merupakan salah satu hutan lindung yang menjadi paru-paru udara di Pulau Bali. Kebun Raya ini udaranya sejuk dan cocok sebagai tempat rekreasi bagi keluarga. Kebun Raya ini terdapat berbagai koleksi tumbuh-tumbuhan yang menarik sebagai wisata pendidikan.





Koleksi Anggrek: Taman anggrek terletak di samping Gedung Kantor Utama yang berjarak sekitar 800 meter dari Gerbang Masuk.  Taman Anggrek bagian bawah merupakan daerah terbuka sebagai tempat untuk koleksi anggrek silangan, sedangkan Taman Anggrek bagian atas merupakan tempat bagi anggrek liar yang merupakan prioritas koleksi karena besarnya manfaat dalam penelitian dan upaya pelestariannya. Koleksi anggrek ini berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, khususnya Indonesia bagian timur, antara lain Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Lebih dari 293 jenis anggrek telah menjadi koleksi Kebun Raya Bali.

Tumbuhan Paku dan Lumut: Koleksi tanaman paku disebut dengan Taman Cyanthea yang berasal dari marga tumbuhan pakuTaman Cyanthea terletak di dekat Herbarium berjarak 750 meter dari Gedung Utama. Lebih dari 80 jenis tumbuhan paku menjadi koleksi yang berasal dari Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Sumatera dan Papua.


Begonia: Rumah kaca Begonia terletak di samping Gedung Nayaka Loka berjarak sekitar 500 meter dari Gedung Utama. Begonia memiliki variasi bentuk dan warna daun yang beragam nan indah. Masyarakat pencinta tanaman hias mengenal Begonia sebagai tanaman hias daun. Keunikan jenis tanaman ini terletak pada bentuk daun yang tidak simetris (asimetris)

Kaktus: Rumah Kaca Kaktus terletak di samping Taman Anggrek berjarak sekitar 800 meter dari Gedung Utama. Kaktus sangat terkenal dengan ciri khasnya sebagai tumbuhan berduri. Kaktus (Cactaceae) merupakan tumbuhan sukulen terbesar di dunia yang terdiri dari lebih 2000 species dan 130 genus. Kaktus dapat ditemukan secara alami di Benua Amerika dan telah diintroduksi di beberapa tempat di dunia yang mempunyai iklim kering dan hangat. Kaktus adalah tanaman yang biasa tumbuh di daerah gurun yang panas. Dengan daun yang telah termodifikasi menjadi duri kaktus dapat hidup di daerah yang kering. Namun kaktus ternyata juga mampu tumbuh dan berkembang di daerah dataran tinggi berhawa dingin seperti Kebun Raya Bali.

Tanaman Obat: Taman Usada terletak di belakang Taman Anggrek berjarak sekitar 850 meter dari Gerbang Utama. Pengobatan tradisional Bali dikenal sebagai usada (Sansekerta Ausadhi : tumbuhan yang mengandung khasiat obat). Kebun Raya "Eka Karya" Bali mewujudkan salah satu bentuk kearifan tradisional di bidang pengobatan tersebut dalam sebuah taman yang disebut sebagai Taman Usada. Koleksi sebanyak lebih dari 300 jenis, ditanam dalam taman seluas 1.600 m2 ini berasal dari berbagai Kabupaten di Bali dan dilengkapi dengan sarana pendidikan berupa papan interpretasi berisi penjelasan singkat mengenai tanaman koleksi tersebut serta fungsinya dalam pengobatan tradisional Bali.


Tanaman Upacara: Taman Panca Yadnya terletak di dekat Pura Batu Meringgit, berjarak sekitar 450 meter dari Gerbang Utama.Taman Panca Yadnya merupakan tempat koleksi tanaman yang digunakan untuk Upacara Adat Hindu Bali “Yadnya” yang melibatkan tiga unsur yaitu bunga, api dan air. Yadnya berasal dari kata “Yad” yang artinya menuju keselamatan. Bunga melambangkan Siwa sebagai pelebur. Api simbol Brahma sebagai pencipta. Air simbol Wisnu sebagai pemelihara. Selain bunga, bagian-bagian lain dari tanaman seperti batang, daun, buah, umbi juga biasa digunakan untuk upacara tertuju kepada lima kelompok Yadnya yaitu Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Rsi Yadnya, Manusa Yadnya, Butha Yadnya.



Bambu dikenal sebagai tanaman serbaguna, mempunyai peran dalam menunjang kehidupan sehari-hari bahkan menjadi bagian dari tradisi yang berkembang di masyarakat. Jenis tumbuhan ini termasuk suku rumput-rumputan (Poaceae) yang umumnya hidup berumpun. Secara alami, bambu dapat tumbuh di berbagai tempat baik di tepi sungai, tepi pantai, lembah, lereng bukit bahkan di daerah pegunungan dengan ketinggian 2.000 m dpl.





Rhododendron. Kebun Raya Bali saat ini memiliki koleksi Rhododendron dan Azalea. Rhododendron dapat ditemukan tumbuh di Asia Tenggara; Malaysia, Filipina, Indonesia (terutama di Papua, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Jawa, Bali, Lesser Sunda). Sebagian besar Rhododendron tumbuh di daerah pegunungan, baik sebagai epifit di pohon-pohon atau di tanah yang terbuka. Rhododendron memiliki bunga yang eksotis, sering kali wangi dan mekar dalam berbagai warna cerah. Rhododendron koleksi Kebun Raya Bali ditata sedemikian rupa di taman Rhododendron dan pengunjung dapat menikmati keindahannya.





Araceae. Beberapa jenis dari suku Araceae mempunyai nilai ekonomi sebagai bahan makanan, tanaman hias, dan bahan obat. Araceae jenis Colocasia, Alocasia, Amorphophallus dan beberapa jenis lainnya diketahui memiliki kandungan gizi karbohidrat tinggi. Marga Aglaonema, Anthurium>, Monstera, Philodendron banyak dibudidayakan sebagai tanaman hias. Sedangkan marga Arisaema, Homalomena dan Typhonium sering digunakan sebagai tanaman obat. Kebun Raya Bali hingga saat ini memiki koleksi Araceae sebanyak 31 marga, 98 Jenis. Lima jenis merupakan koleksi baru hasil eksplorasi peneliti Kebun Raya Bali dari daerah Sulawesi dan Kalimantan.





Herbarium terletak di dekat kantor utama, sekitar 750 m dari gerbang utama. Kebun Raya Bali memiliki herbarium yang diberi nama Herbarium Hortus Botanicus Baliense (THBB). Herbarium ini menyimpan koleksi kering dan basah, juga biji yang berasal dari tanaman koleksi kebun maupun hasil eksplorasi. Koleksinya sebanyak lebih dari 10.000 spesimen dari lumut sampai tumbuhan berbunga. Herbarium ini terbuka untuk umum dengan pengawasan petugas. 

New Update

Followers

Featured post

Kisah Di Balik Misteri Lagu Nina Bobo

Sebuah lagu yang berjudul Nina bobo yang pastinya anda tidak asing lagi dengan lagu tersebut, Yang mana lagu tersebut sering di lantun...